erakhma

The longer you put off a job, the harder it to start


Tinggalkan komentar

BUMP TO BIRTH (part 2)

Keesokan hari, 12 Agustus 2009.

Pukul 08.00
Ibu menyarankan untuk segera bersiap ke RS, sekalian bawa perlengkapan. Meski nyeri uda menjalar, aku pengennnya ntar-ntar aja. Tapi beliau kan uda pengalaman dan tak mau terjadi apa-apa. Dengan Basmalah, diantar suami ke RS dan langsung diperiksa. But, oh my God kenapa dapat bidan jutek begini, makin berasa deh sakitnya.  Ternyata uda bukaan tiga, perawat meminta untuk menunggu sambil jalan- jalan atau tidur miring kiri. Kusempatkan Tanya ‘ suster,, bidan tadi shift pagi ya, sampai jam berapa kalo shift pagi?’ ‘Oh iya, sift pagi sampai jam 14.00 bu’. Syukurlah semoga persalinan nanti dibantu bidan yang ramah dan sabar…doaku dalam hati.. Lanjuut jalan keliling RS ditemani my beloved husband.

Pukul 09.30
‘Ibu boleh pulang, kalau rumahnya dekat. Mungkin itu bisa membuat lebih nyaman’, kata seorang perawat menghampiriku yang sedang istirahat.  Aha, usul yang bagus, perlengkapan biar tetap di kamar. Sampai di rumah Ibu yang mo nyusul ke RS terkejut, tapi karena berdasarkan saran dari perawat, ya tenang aja. Di rumah makan sedikit karena rasa mual juga tiba-tiba menyerang. Sempat juga tidur sebentar sambil mengatur nafas tiap kontraksi datang.

Pukul 11.00
Kembali ke RS, kali ini ibu langsung ikut. Tambah rame aja, banyak pasien rawat jalan ngantri. Otomatis para perawat di bagian kebidanan pada sibuk, mo cek bukaan lagi, ngikut antri ya udah de jalan keliling RS aja. Untung RS nya ga besar, jdi bisa tamat deh menjelajah. Jalan kali ini lebih berat lagi rasanya, tiap 10  menit harus berhenti, tak tahan dengan sakit yang datang.  Tak peduli tatapan orang-orang yang melihatku terengah.

Pukul 13.00
Kali ini gantian ibu yang menemani, sementara suami sedang ishoma. Setiap istirahat kuselingi dengan makan cemilan. Mau makan nasi juga tak bisa sekaligus habis, sesuap demi sesuap karena tiap kontraksi datang pasti tu makanan keluar lagi. Keringat dah bercucuran, pikiran dah kacau antara lapar, mulas, ngantuk. Tambah ga konsen karena disamping kami duduk ada dua orang polisi lagi asyik ngobrol, pake merokok lagi. Tak lama ada polisi menyapa, kayaknya pangkatnya sih lebih tinggi “wah mau melahirkan ya bu? sudah ketemu dokternya?”..uda lihat perut gede, peluh bercucuran, wajah nahan sakit masih nanya…hmmm tapi itu bukti perhatian pada pelayanan publik. “Sudah Pak, tadi disuruh jalan terus” jawab ibuku mewakili. “Oh ya bagus itu, memang harus banyak jalan. Ya udah teruskan saja.”

Pukul 14.00
Lelah berjalan akhirnya aku kembali ke kamar, berbaring sambil terus mengatur nafas saat sakit itu datang. Obrolan teman sekamar hanya bisa kutanggapi dengan anggukan dan senyum. Aku hanya bisa mendengar ibu yang akrab mengobrol dengan pasien sekamar yang sudah 5 hari opname setelah operasi Caesar. Sakit kali ini sudah disertai rasa seperti kebelet BAB dan rasanya ingin mengejan mengeluarkannya. Aku beritahu ibu dan beliau bilang berarti sudah deket waktunya. Ibu terus memantau sambil melihat jam di HP, ada sekitar 3 menit sekali dorongan itu muncul.

Pukul 15.30-16.00
Rasa sakit dan dorongan di panggul makin bertambah, rintihanku saat istighfar dan menyebut asma Allah juga lebih keras. Tiba-tiba byar…air ketuban sudah pecah membasahi tempat tidur. Ibu langsung memanggil suster. Sementara aku makin merasakan nyeri yang menjadi. Kupeluk erat ibu saat rasa sakit itu muncul, ibu hanya membisikkan di telingaku untuk pasrah pada Allah. Pandanganku mulai ga fokus, samar kulihat suami yang baru kembali dari sholat ashar langsung panik melihatku tak berdaya, sementara belum ada tindakan dari perawat atau bidan. Perawat sempat bertanya, ibu bisa jalan ke ruang bersalin? Kucoba menenangkan diri, tapi usaha itu tak lama karena sakit datang lagi dan rasanya udah mau jatuh aja ni bayi dari perut. Suami langsung meminta kursi roda atau troli. Yang ada hanya kursi roda. Dibantu ibu dan dua perawat, aku berusaha bangun. Baru duduk di kursi roda nyeri yang luar biasa datang lagi, membuatku ingin menangis. Kali ini kurasakan ada suatu cairan yang keluar seperti BAB, ternyata sisa cairan ketuban dan darah sudah berceceran. Dalam perjalanan ke ruang bersalin ibu dan suami terus menepuk pipiku agar aku terus sadar dan mengatur nafas. Tapi sudah tidak fokus antara mengatur nafas dan menyebut asma Allah.

Pukul 15.45
Tiba di ruang bersalin, masih harus berjuang untuk mengangkatku naik ke tempat tidur. Belum lagi di saat yang bersamaan ada seorang ibu yang berbaring di ruang bersalin menunggu waktu untuk operasi Caesar. Langsung lompat turunlah ibu itu melihatkku yang kesakitan mau melahirkan. Aduhh maaf ya bu…Bagitu di atas tempat tidur aku sibuk mencari pegangan, sementara suamiku yang panic mengomel pada dua perawat yang sibuk mempersiapkan peralatan bersalin..”mana ini bidannya….mana dokternya”…”maaf Pak kami cuma jaga bertiga..”jawab salah seorang perawat. Tak lama bidanpun datang, ternyata beliau sedang ambil wudhu mau sholat Ashar..tapi ga jadi karena ada panggilan darurat. Kali ini baru deh diperiksa bukaaanya, sudah bukaan 10. Sayup-sayup kudengar bidan memberitahu cara mengejan yang benar.”Saat dorongan datang ambil nafas dari hidung dan keluarkan lewat mulut tanpa ada suara. Dengarkan instruksi saya, kalau sudah nanti mengejan seperti ga BAB  1 minggu ya”. Aku coba tapi yang keluar hanya teriakan Allah…Allah.. “Salah itu mengejannya bu, coba lagi” Ucap bidan. ”Ummi konsen nafas saja, biar abi dan ibu yang membisikkan asma Allah ya” ucap suami di telingaku…

Pukul 16.00
Kucoba bernafas denga benar, ibu pun ikut membimbingku caranya. Saat bidan berucap..”ya dorong bu, lebih cepat lagi nafasnya”…akhirnya… brujull… kurasakan sesuatu yang keluar dan tak lama kemudian kudengar tangisan bayi, laki-laki. Subhanallah, aku sudah melahirkan.. Alhamdulillah ibu dan suamiku bersyukur dan tersenyum lega. Rasa sakit di perut sudah hilang. Tapi itu belum berakhir karena masih harus merasakan jahitan di jalan lahir. Sambil dijahit aku yang berniat IMD (inisiasi menyusu dini) bilang ke bidan mau segera menyusui bayiku. Tapi bidan bilang dibersihkan dahulu. Sementara perawat langsung membersihkan bayiku dan mengukurnya. Wah 4 kg 51cm, Subhanallah bisa normal akhirnya. Kata bidan, tadi belum sempat episiotomy, perineum sudah sobek duluan.  Wiih yang ini sakitnya ga sembuh sembuh deh, sampai sekarang masih terasa nyeri.

Pukul 16.15

Ketika perawat selesai membersihkan babyku dan hendak membawa ke incubator, aku mengingatkan untuk menyusui lebih dulu. Yah meski aku tahu ASI belum keluar tapi karena menurut teori IMD sangat bagus dampaknya, aku  agak memaksa. Akhirnya dengan dipegang seorang perawat, bayiku  disodorkan ke dadaku, dan Alhamdulillah dia langsung menghisap putingnya. Melihat itu ibu jadi gemas, loh kok sudah pinter nyedot…he he. Sayangnya Cuma 5 menit saja, karena bayi keburu dibawa keluar. Setelah bayi dibawa keluar, ibu segera menelpon ayah, lalu pamitan untuk sholat Ashar. Tinggallah aku dengan seorang perawat yang membersihkan tubuhku, dan mengganti bajuku. Ternyata ada juga yang ketinggalan ya, kain panjang/sarung untuk melahirkan dan washlap akhirnya ya pake sedanya. Setelah beres, perawat meninggalkan ruangan dan tinggal aku sendiri yang harus recovery selama 2 jam.Kalau tak ada keluhan baru kembali ke kamar perawatan. Sambil menunggu waktu berlalu, aku terus merenung dan tak henti bersyukur telah diberi anugerah terindah dengan selamat. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah, semoga amanah ini dapat kami jaga dengan sebaik-baiknya.
FABIAYYIALAA HIRABBIKUMAA TUKADDZIBAN
 Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Tinggalkan komentar

BUMP TO BIRTH (part 1)

Setiap kehamilan dan kelahiran mempunyai cerita dan sensasi tersendiri bagi para ibu. Apalagi jika sedang hamil dan menanti kelahiran anak pertama, banyak pelajaran baru yang akan dialami oleh calon ibu dan ayah. Dari mulai menyakinkan diri bahwa ada makhluk yang sedang tumbuh dalam rahim, lihat perut gendut yang kadang kala bergerak-gerak sampai akhirnya bisa melihat wujud bayi mungil yang selama kurang lebih 9 bulan meringkuk di dalam rahim lahir ke dunia. Sungguh menunjukkan kuasanya Allah Sang Maha Pencipta. Banyak  cerita yang telah kita dengarkan seputar kehamilan dan kelahiran, tapi itu semua hanyalah sebuah cerita sampai kita mengalaminya sendiri. Sungguh merupakan momen yang sangat menakjubkan bila kita mau merenungkan. Karena periode ini menjadi ladang pahala bertanamkan sabar, syukur dan tawakkal.
Nah, this is it ceritaku saat menanti kelahiran anak pertama: (red. Sory ya buat yang uda boring, di skip aja)
Due Date:  Selasa, 11 Agustus 2009, belum juga ada tanda-tanda persalinan. Hanya kontraksi palsu yang makin sering datang dan pergi dan ini sudah berlangsung selama satu minggu. Padahal selama satu minggu itu pula lebih intens jalan kaki, setiap pagi bahkan di malam hari sambil nahan sakit saat kontraksi tiba-tiba datang. Pokoknya tiada hari tanpa jalan kaki, meskipun lagi musim kabut asap dan pemadaman listrik. Alhamdulillah ada suami, juga ibuku yang bergantian nemenin jalan. Kalo sendirian bakalan males jalan di tengah kabut asap dan gelapnya malam karena listrik mati. Meski biasanya ada toleransi waktu menunggu 2 minggu setelah due date, tapi tetap aja khawatir .
Nah, hari itu juga periksa ke rumah sakit dekat rumah, jaraknya sekitar 150meter. Baru pertama kali periksa ke RS ini, biasanya di tempat lain yang ada dokter kandungan perempuan. Kalo di RS ini dokter laki semua, maklum RS-nya para polisi. Begitu periksa, ketemulah sama dokter kandungan laki-laki, syukurnya baik hati :p mau ga mau periksa USG ama beliau, tentu dengan pengawasan suami. Semuanya normal, tapi mulai terlihat pengapuran di plasentanya dan yang mengejutkan dokter bilang, “wah bayinya besar, agak mengkhawatirkan ni kalo lahir normal, apalagi anak pertama. Kita tunggu 1 minggu lagi, kalo ga ada tanda2 baru ambil tindakan”.  Ya Allah, gimana ini…jadi speechless kami berdua. Waktu dokter nawarin mo periksa dalam, aku spontan jawab “ga mau sama dokter tapi..sama bidan saja periksanya”. Ya udah ke ruang VK sama bidan “bagus, ni kepala bayi dah turun, tapi belum ada pembukaan signifikan, Cuma nol koma sekian centi”.
Akhirnya kami pulang, suami yang masih terngiang kata dokter tadi langsung menyuruhku ngepel rumah, tanpa tongkat pengepel alias ngepel gaya jongkok. Aku yang masih tenang-tenang aja jadi manyun disuruh ngesot eh ngepel, tapi ya tetep dikerjakan demi membantu proses bukaan. Ibu yang tiap saat menunggu berita dari kami, mendukungku untuk banyak gerak. Selesai mengepel dan bermaksud sholat dhuhur, tiba-tiba kaget karena ada flek darah. Ditunggu-tunggu makin lama makin banyak seperti haidh tapi tak ada rasa sakitnya seperti mulas. Mengetahui itu suami dan ibuku makin menyemangati untuk jalan-jalan. Hiks meski kaki dah gemeteran buat jalan, tetep aja melangkah. Oya, tak lupa harus jaga stamina, jangan sampai lemes karena laper, minum madu, sari kurma, menenggak telur ayam kampung. Yang terakhir tu harus disiasati biar ga eneg, telur dikocok pake air panas  plus madu yang buanyyak.
Malam hari rasa sakit di bawah perut makin sering datang, meski demikian jalan kaki selepas isya masih berlanjut, kali ini tak sanggup jauh-.jauh, cukup mondar-mandir di halaman. Pukul 11 malam, tak tenang melihatku meringis sakit tiap 15 menit, suami memutuskan untuk cek ke RS. Alhamdulillah ada bidan jaga yang ramah. Detak jantung bayi deperiksa melalui CTG, tensi darahku juga diukur, periksa dalam masih bukaan satu. Bidan hanya menyarankan untuk kembali istirahat, makan biar ada tenaga dan saat kontraksi datang nafas yang teratur. Of course tarik nafas dari hidung, tahan sebentar, hembuskan lewat mulut efektif mengurangi rasa sakit, paling tidak membuat lebih rilex.

( to be continued)