erakhma

The longer you put off a job, the harder it to start

BUMP TO BIRTH (part 1)

Tinggalkan komentar

Setiap kehamilan dan kelahiran mempunyai cerita dan sensasi tersendiri bagi para ibu. Apalagi jika sedang hamil dan menanti kelahiran anak pertama, banyak pelajaran baru yang akan dialami oleh calon ibu dan ayah. Dari mulai menyakinkan diri bahwa ada makhluk yang sedang tumbuh dalam rahim, lihat perut gendut yang kadang kala bergerak-gerak sampai akhirnya bisa melihat wujud bayi mungil yang selama kurang lebih 9 bulan meringkuk di dalam rahim lahir ke dunia. Sungguh menunjukkan kuasanya Allah Sang Maha Pencipta. Banyak  cerita yang telah kita dengarkan seputar kehamilan dan kelahiran, tapi itu semua hanyalah sebuah cerita sampai kita mengalaminya sendiri. Sungguh merupakan momen yang sangat menakjubkan bila kita mau merenungkan. Karena periode ini menjadi ladang pahala bertanamkan sabar, syukur dan tawakkal.
Nah, this is it ceritaku saat menanti kelahiran anak pertama: (red. Sory ya buat yang uda boring, di skip aja)
Due Date:  Selasa, 11 Agustus 2009, belum juga ada tanda-tanda persalinan. Hanya kontraksi palsu yang makin sering datang dan pergi dan ini sudah berlangsung selama satu minggu. Padahal selama satu minggu itu pula lebih intens jalan kaki, setiap pagi bahkan di malam hari sambil nahan sakit saat kontraksi tiba-tiba datang. Pokoknya tiada hari tanpa jalan kaki, meskipun lagi musim kabut asap dan pemadaman listrik. Alhamdulillah ada suami, juga ibuku yang bergantian nemenin jalan. Kalo sendirian bakalan males jalan di tengah kabut asap dan gelapnya malam karena listrik mati. Meski biasanya ada toleransi waktu menunggu 2 minggu setelah due date, tapi tetap aja khawatir .
Nah, hari itu juga periksa ke rumah sakit dekat rumah, jaraknya sekitar 150meter. Baru pertama kali periksa ke RS ini, biasanya di tempat lain yang ada dokter kandungan perempuan. Kalo di RS ini dokter laki semua, maklum RS-nya para polisi. Begitu periksa, ketemulah sama dokter kandungan laki-laki, syukurnya baik hati :p mau ga mau periksa USG ama beliau, tentu dengan pengawasan suami. Semuanya normal, tapi mulai terlihat pengapuran di plasentanya dan yang mengejutkan dokter bilang, “wah bayinya besar, agak mengkhawatirkan ni kalo lahir normal, apalagi anak pertama. Kita tunggu 1 minggu lagi, kalo ga ada tanda2 baru ambil tindakan”.  Ya Allah, gimana ini…jadi speechless kami berdua. Waktu dokter nawarin mo periksa dalam, aku spontan jawab “ga mau sama dokter tapi..sama bidan saja periksanya”. Ya udah ke ruang VK sama bidan “bagus, ni kepala bayi dah turun, tapi belum ada pembukaan signifikan, Cuma nol koma sekian centi”.
Akhirnya kami pulang, suami yang masih terngiang kata dokter tadi langsung menyuruhku ngepel rumah, tanpa tongkat pengepel alias ngepel gaya jongkok. Aku yang masih tenang-tenang aja jadi manyun disuruh ngesot eh ngepel, tapi ya tetep dikerjakan demi membantu proses bukaan. Ibu yang tiap saat menunggu berita dari kami, mendukungku untuk banyak gerak. Selesai mengepel dan bermaksud sholat dhuhur, tiba-tiba kaget karena ada flek darah. Ditunggu-tunggu makin lama makin banyak seperti haidh tapi tak ada rasa sakitnya seperti mulas. Mengetahui itu suami dan ibuku makin menyemangati untuk jalan-jalan. Hiks meski kaki dah gemeteran buat jalan, tetep aja melangkah. Oya, tak lupa harus jaga stamina, jangan sampai lemes karena laper, minum madu, sari kurma, menenggak telur ayam kampung. Yang terakhir tu harus disiasati biar ga eneg, telur dikocok pake air panas  plus madu yang buanyyak.
Malam hari rasa sakit di bawah perut makin sering datang, meski demikian jalan kaki selepas isya masih berlanjut, kali ini tak sanggup jauh-.jauh, cukup mondar-mandir di halaman. Pukul 11 malam, tak tenang melihatku meringis sakit tiap 15 menit, suami memutuskan untuk cek ke RS. Alhamdulillah ada bidan jaga yang ramah. Detak jantung bayi deperiksa melalui CTG, tensi darahku juga diukur, periksa dalam masih bukaan satu. Bidan hanya menyarankan untuk kembali istirahat, makan biar ada tenaga dan saat kontraksi datang nafas yang teratur. Of course tarik nafas dari hidung, tahan sebentar, hembuskan lewat mulut efektif mengurangi rasa sakit, paling tidak membuat lebih rilex.

( to be continued)

Penulis: erlinarakhma

Masih belajar bagaimana menjadi Istri dan ibu yang baik, benar , tidak sombong dan sholihah :) Kayaknya tipe Sanguin- plegmatis deh. Suka malu malu mau buat meraih apa yang diimpikan. Tapi kalo uda ada kemauan rasanya meledak-ledak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s