erakhma

The longer you put off a job, the harder it to start


Tinggalkan komentar

My Second Bump to Birth #2

THE NEXT PREGNANCY

PART II

Lanjut cerita kehamilan yaa dari part 1 sebelumnya.  Setelah pulang ke Indonesia. Pertama greeting dulu biar siap mental ….”Welcome to Indonesia”…..Melalui perjuangan panjang saat harus packing dalam keadaan puasa Ramadhan Alhamdulillah tibalah kami di Indonesia dengan selamat. Sebelum pulang  sudah tanya ibu dan teman informasi  tentang periksa kehamilan di kampung. Khususnya dokter kandungan wanita. Kalo di kampung sih periksa di bidan sudah cukup tapi kalo ingin lebih lengkap tentu harus ke dokter kandungan yang punya wewenang untuk USG. Informasi yang kami dapatkan untuk periksa kandungan dengan dokter perempuan bisa di RSI Sakinah Mojokerto.  Melalui telpon saya tanya jadwalnya yaitu tiap hari Selasa dan Jumat pagi. Pertama datang sudah muncul kesan tidak mengasyikkan , menunggu 2 jam ternyata dokter tiba-tiba tidak bisa datang sehingga yang hendak periksa USG harus pulang dengan tangan hampa. Masih menguntungkan sih karena jadinya ga bayar, padahal tadinya kalo jadi periksa harus bayar penuh karena  ga datang pake rujukan buat ASKES ( baru tau kalo pake ASKES harus pake rujukan dari Puskesmas, jadi tiap mau periksa harus minta rujukan Puskesmas yang  masa berlakunya untuk 1 bulan).  Oya baru sempet periksa hamil setelah lebaran  karena sibuk kesana kemari sekitar 1 bulan setelah kembali dari Jepang. Itupun yang pertama di bidan baru setelahnya ke dokter tentu dibekali berbagai vitamin khusus ibu hamil waktu pulangnya.

Hmmmmmm……………….. tiba Saatnya suami harus kembali bekerja, sebagai fresh graduated jadi  harus magang dulu di kantor pusat di Jakarta. Sembari menunggu pengumuman  tempat tugas yang baru dan lahirnya debay , saya & fahmi tetep stay di kampung halaman. Menunggu  due date tanpa kehadiran suami jadi lain semangatnya. Ga ada yang obrak obrak untuk jalan kaki pagi, senam hamil & jaga asupan makanan jadi harus dengan kesadaran sendiri, parahnya keenakan di kampung ya jadii kesadaran ga penuh alias banyak malesnya hadeeeh. Lebih keasyikan browsing info tetang kehamilan dan persalinan khususnya tentang gentle birth yang amat provokatif  itu  -positif tentu- dari sebelum hamil emang suka banget segala info kehamilan & persalinan.  Termasuk senam & prenatal yoga tinggal klik aja kan waktu disono no hehehe. Online terus boo…

3 Bulan berlalu masuk ke bulan Nopember yang artinya sudah 40 minggu kehamilan belum ada tanda persalinan yang signifikan. Sebenarnya dari usia 8 bulan (36 minggu) posisi janin sudah normal dan sudah ada kontraksi ringan.  Karena dapat nasehat yang tak bikin semangat dari dokter ‘ jaga dulu kandungan biar ga kontraksi hebat’  jadinya tambah males jalan deh. Yang gokil bumilnya kali ya. OOT àtiap hamil bertepatan musim panas sudah pasti tambah hoooot banget. Kali ini sempet dibilangin kalo ketubannya kurang karena sering dehidrasi, jadinya botol minum selalu dekat di hati eh dekat diriku. Trus pingin liat jenis kelamin juga lum keliatan pasti hingga usia 9 bulan. Lebih canggih tebakan nenekku rupanya dan ternyata memang valid hahahha.  Lanjut tentang hari hari terakhir jelang persalinan yaaa………………………………..

PERSALINAN ITU KUALAMI JUGA, alhamdulillah…………..

Due date 3 -4 Nopember 2013 tapi belum ada tanda yang selalu kunanti seperti halnya persalinan yang pertama dulu, munculnya flek. Sejak 2 minggu sebelumnya kontraksi sudah makin kuat namun sering menghilang. Pergi BAK juga makin intens – tiap 2 jam ada kali ya ke KM.  Periksa ke bidan sudah seminggu sekali semuanya normal.  Suami juga sudah siaga , lebih sering pulang seminggu sekali namun yang ditunggu belum juga hadir. Padahal setelah due date sudah tidak bisa sering-sering pulang lagi.

Lewat 5 hari baru inisiatif priksa ke dokter tepatnya pada 8 November 2013. Tidak memberikan pernyataan yang menenangkan sang dokter justeru mendesak agar bayi segera dilahirkan setelah melihat kondisi dengan usg. Tidak menenangkan karena penjelasannya pun terkesan irit  Cuma beralasan usia sudah lewat 9 bulan dan amnion atau ketuban sudah berkurang meski tak akan habis memang. Gerakan janin juga tak seaktif biasanya. Whaaat, tak peduli apa argumen yang kuungkapkan seperti apa yang kubaca selama ini demi mewujudkan gentle birth, bahwa maksimal kandungan adalah 42 minggu dan amnion bisa terus diproduksi. Gerakan janin wajar berkurang karena ruang gerak yang semakin sempit. Ga peduli request ku untuk menunggu 1 minggu lagi at least 2 hari biar pas lewat seminggu alias 41 minggu. Malah memojokkan kalo terjadi sesuatu tanggung sendiri resikonya . ya iyalah situ mana mau nanggung apalagi dituntut, Tapii hendaknya kalo ngasih saran mbok ya yang enak komunikasinya ga grusa grusu. Liat sudut pandang ibu hamilnya juga kenape, perasaan bumil jelang persalinan mesti lah ngerti, kecuali emang ga peka siiii. Sudah illfeel lanjut kutanya bagaimana baiknya ini, sarannya sungguh bagus..
”yaa kalo mau sekarang langsung masuk pesan kamar ajah, nanti dirangsang biar cepet kontraksi”.
“oo diinduksi maksudnya”. cetusku ..

”Lha iya tadi saya gunakan istilah awam dirangsang , ibuknya malah pake istilah induksi, orang medis ya?” respon bu dok.

“bukan dok, tapi kan saya baca-baca juga istilah itu sering denger”  (batinku, mentang mentang datang periksa ga gebleg gebleg amat kali..).  “lha tapi tadi saya datang niatnya Cuma periksa ga persiapan buat opname”.

“ Kalo gitu silakan rundingan dulu dengan suaminya, kalo udah diputuskan jadi nanti isi formulir ini ya”.

“baik saya permisi dulu”.

Keluar ruangan dengan nelangsa kupaksa  senyum menyapa ibu-ibu yang masih mengantri. Sambil menunggu suami yang sedang sholat Jumat, saya ngobrol dengan ibu yang sedang antri dan menceritakan apa yang barusan terjadi di dalam sana. Ibu tadi mengandung anak ketiga dan menyarankan supaya tenang dan bayak jalan aja. Seperti yang dialaminya waktu persalinan anak pertama dan keduanya dulu. Dengan alasan mau jalan-jalan saya tinggalkan ruang tunggu menuju Musholla, Sholat dhuhur dan mengadukan gelisahku padaNYA.

Seusai sholat kutemui suami di depan RS dan cerita apa yang barusan divoniskan dokter.  Raut mukanya sudah tegang aja membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Berusaha tenang aku mengusulkan untuk mencari second opinion ke dokter kandungan lain. Meski pikiran sudah didominasi opini pertama dari bu dokter tadi, suami mempersilahkan aku cari info sendiri. Kutelpon RS lain yang kuperoleh infonya dari tetangga, dan kudapati bahwa jadwal praktek dokter adanya jam  5 sore atau jam 8 pagi. Ingin rasanya langsung periksa sebenarnya tapi kondisi lelah menunggu seharian tak memungkinkan langsung lanjut, apalagi ngajak Fahmi pasti capek dan lapar juga. Sebelum meninggalkan RS. suami menyuruhku jalan keliling dan konfirmasi ke perawat yang pagii tadi ada di Ruang periksa. Menanyakan kemungkinan jika memang harus rawat inap apakah ada kamar atau tidak untuk yang menggunakan ASKES  & sedang menunggu persalinan anak kedua. Sore itu tersedia dua kamar dan belum tentu esoknya, demikian info yang kuterima dengan kesan desakan untuk segera ‘menginap’. Kujelaskan saja belum siap dan bagaimana jika keesokannya saja kembali. Akhirnya perawat inisiatif untuk memesan 1 kamar untuk esok meski belum tentu kembali. Jika memang benar datang tinggal konfirmasi langsung aja ke UGD.  Selesai episode di RS hari itu. Usul second opinion tak diterima karena dokter kandungan perempuan tak ada yang lain.  Selanjutnya penuh ketegangan yang tak seharusnya..

Perjalanan pulang dari RS tak langsung menuju rumah, menunjukkan kegalauan suami hehee. Mampir mampir sambil diskusi panjang kali lebar antara sebab dan akibat kenapa jadi begini.  Mampir pertama ke rumah makan isi tenaga setelah seharian menunggu di RS. Meski galau juga tapi aku berusaha menikmati suasana..sebab sebab yang dilontarkan suami kutanggapi dingin aja. Yang males jalan, kurang olah raga lah lah bla bla bla .Tinggal menikmati akibat yang dalam pikiranku saat itu tetap harus diatasi dengan positif thinking. Memang berat pertarungan positf vs negatif ini. Ditambah kondisi yang melelahkan. Selesai makan kita meluncur pulang dan mampir lagi ke manaa?? Ke sawah nan luas menghampar dengan jalan lurus membelah. Ke situlah tempat saya terdampar untuk memperbanyak jalan kaki demi persalianan yang dinanti. Satu jam kemudian barulah pulang kerumah. Istirahat dan mandi.

Kuceritakan pada ibu vonis dokter tadi. Ibu masih menenangkan dan mendoakan semoga malam ini bisa melahirkan normal sambil cerita pengalamannya . Sewaktu hamil  tak kunjung lahir juga tenang dan masih beraktifitas seperti biasa. Padahal orang orang juga sudah menanyakan. Begitu ada tanda jam 1 malam pun ibu tetep jalan –jalan. Nah itu juga kuikuti.  Malamnya  aku jalan muter muter halaman  dan jalan kaki sampe rumah bu bidan yang kurang lebih 700 m dari rumah . Saat diperiksa bidan  ternyata  tensiku lebih tinggi dari biasanya.  Jadi disarankan untuk tidaak banyak jalan lagi khawatir kelelahan dan tensi tambah naik. Diperiksa bukaan juga belum ada tanda-tanda.  Akhirnya jalan terbaik diputuskan segera ke RS saja.  Yaa sudahlaah lebih mempersiapkan mental lagi untuk segala kemungkinan sambil banyak berdoa.  Kusampaikan pada ibu dan suami juga pasrah saja menjalani mana yang dianggap terbaik.  Meski ibu tetep  optimis saja bisa normal.

Keesokan hari Sabtu, 9 November 2013 (5 Muharram 1345 H) jam 6 pagi saya dan suami berangkat ke RS dengan membawa perlengkapan bersalin. Sementara Fahmi ditinggal sama mbahnya di rumah. Setiba di RS kami ikuti saran perawat kemarin hari yaitu menuju UGD terlebih dahulu.  Setelah prosedur di UGD  (tensi  darah, daftar dll..) saya pun  di antar ke ruang rawat inap khusus bersalin kelas 2 . Dipersilahkan pake kursi roda sama mas perawat, saya bilang “ga usah mas, saya ga sakit masih kuat jalan sendiri’ .   Alhamdulillah di kamar ada 2 bed yang masih kosong jadi bebas dipakai sendiri hehehe.  Setelah merapikan barang di kamar saya dan suami jalan keliling melihat ruangan bayi, ruang VK  yang bersebelahan kamar-kamar inap.

Jam 09.00 mulai dipasang alat induksi  berupa  infus (  oksitosin drip). Setelah dipasang daripada diam saja di kamar saya dan suami tetep melanjutkan jalan-jalan  sekeliling ruangan dan sesekali keluar ruangan sambil menyeret-nyeret tiang infus yang otomatis jadi perhatian orang hehehe.  Baru kali itu dipasang induksi dan kontraksi pun makin kuat meski masih jarang-jarang.  Sempet ditanya  seorang ibu yang menunnggu cucunya yang baru lahir di ruang bayi ‘ kok ga langsung caesar aja mbak, pake dirangsang gitu kan tambah sakit” kujawab “Hehehe ga papa bu sudah pernah merasakan sakit melahirkan normal, ini belum seberapa” . Saat itu masih sangat berharap bisa melahirkan normal.

Jam 17.00 botol infus yang pertama sudah mulai habis, tapi kontraksi belum intens juga. Perawat yang  datang kontrol menawarkan mau infus lagi  atau segera  prosedur  untuk SC ? saya bilang ga papa infus lagi tapi  kata perawat  kalo kelamaan juga kasihan bayinya.  Dibilang gitu jadi galau deh, minta waktu ditunggu sampe jam 7 malam, dan diminta mulai puasa.  Sambil nunggu waktu,  konsultasi minta dukungan via telpon ke ibu, teman yang bidan, bude yang perawat dan kakak. Insya Allah kalo SC memang yang terbaik ya Bismillah dijalani saja.

Jam 19.00  Saat mau diapasang kateter dan infus  saya ijin  ke toilet dulu , Masya Allah sudah nge flek, berarti sudah ada pembukaan, tapi terlanajur mau dipasang  kateter dan infus  plus seragam operasi.  Ga bisa ngapa ngapain lagi karena uda total bed rest sambil nunggu jadwal operasi  yang katanya jam 9 nanti.  Saat itu ibu sudah datang sama Fahmi, pak de dan beberapa sodara juga hadir.  Tiba –tiba jam 20.00 perawat datang memberi tahu sekarang operasinya lho..lho katanya jam 9 baru mulai kok diajukan sak karepe dewe ..  Yaa Pasrah saja bed digeret  di bawa ke Ruang Operasi saja sambil terus berdzikir dan komunikasi dengan debay supaya sama-sama siap.

Jam 20.00 diantar suami masuk ke ruang tunggu operasi  masih antri sambil nunggu dokternya juga.  Alhamdulillah dokter datang dan kusapa, sapa dibalas sambil terburu-buru ( ya elaa maap deh kalo ganggu malam mingguannya dok- batinku ) .  Akhirnya giliran masuk ruang operasi suami tidak diijinkan masuk, di dalam dingiiin sekali, ada beberapa perawat dan dokter anestesi serta musik pop,  dangdut campur sari ato apa gitu berisik deh.  Sambil ikuti intruksi  dokter saat dibius lokal saya  ngedumel (meski ga didenger)  ‘ mas saya mau melahirkan musiknya ganti ngaji-ngaji kek..’  Sesaat kemudian baru mati rasa dari perit ke bawah.  Ga peduli dokter & perawat ngobrol ngalor ngidul saat operasi aku tetep berdzikir sambil menahan ngantuk karena efek bius

20.30.. Alhamdulillah terdengar tangis bayi dan suara dokter ‘ anaknya perempuan bu’ …Setelah itu benar- benar seperti melayang  mata tak kuat melek. Cuma sayup-sayup kudengar suara perawat yang mencari bedong dan segala keperluan bayi.  Serta gerakan bed yang menyeretku kembali ke kamar.

21.30 Alhamdulillah sekali lagi , aku mulai sadar dari bius, dan baru tahu kalo tadi dibius total karena ada pendarahan akibat dari induksi. Saat berusaha sadar aku mengalami hypotermia, rasanya menggingil sekali sampe mau pingsan karena merasa terjepit balok-balok es . Padahal selimut dan jaket sudah  dikekepin .  Suami dan ibu terus menyemangati agar aku sadar.  Karena  bayinya sudah menangis kehausan minta disusuin.  Setelah sadar sempurna Alhamdulillah bisa melihat debay, IMD yang telat dan ga maksimal karena masih harus puasa pasca operasi sampe jam 9.30 esok pagi. Duuh padahal lemes, haus dan laper banget….

Dua hari kemudian  Senin,  11 November 2013 sudah lepas kateter dan infus  jadi bisa belajar jalan lagi. Masih ada ibu dan ibu Mertua yang dari kemarin juga datang menemani karena suami sudah harus kembali kerja ke Jakarta. Pagi-pagi setelah mandi belum sempat sarapan sampai habis sudah disuntik obat saat itu masih di infus.  Tak lama  kemudian badan menggigil lagi mungkin kena AC juga sih, tapi makin lama makin kejang ga bisa ngontrol gerakan. Padahal saat itu saya lagi menyusui berdua saja sama debay. Tetep berusaha kuat kuatir gendongan lepas.  Ibu sedang keluar  menjemur handuk sedangkan ibu mertua ngajak Fahmi jalan-jalan.  Begitu ibu kembali ke kamar kaget liat saya gemetar pucat langsung gendong bayi dan panggil perawat.  Disuruh tenang , nafas teratur sambil dipasang selang oksigen. Alhamdulillah karena kejadian itulah infus dilepas  dan saya merasa normal kembali. Dapat penanganan cepat tapi lupa tanya kenapa bisa begitu.  Jadinya ya menduga duga saja . Hari itu juga dapat kunjungan dokter kandungan dan sudah dapat ijin untuk pulang keesokan harinya.

Begitulah kisah melahirkan anak kedua, banyak pelajaran yang dialami dan lebih banyak  lagi yang harus disyukuri. Yang terpeting selamat dan sehat. Tinggal dilanjutkan dengan perawatan pasca melahirkan  SC ( kontrol & lepas jahitan ) yang tentu agak beda dengan melahirkan normal.  Demikian juga masalah menyusui yang belum terlalu lancar sehingga dibantu susu formula, dilakukan juga meski inginnya Asi eksklusif. Jika terlalu saklek malah bayi bisa dehidrasi.

Insya Allah jika kita percaya dan ridho /ikhlas dengan jalan yang diberikan Allah  akan terasa lebih lapang menjalaninya. Sebagaimana ikhlas itu tidak saat kejadian saja melainkan sebelum dan sesudahnya karena godaan pasti ada sepanjang masa 😊.  Jadi harus lebih banyak bersyukur atas segala nikmat NYA.